Mudik ke Madura

Abd Aziz kontributor LKBN Antara Biro Jawa Timur sekaligus Ketua PWI Pamekasan 2015-2018
Abd Aziz kontributor LKBN Antara Biro Jawa Timur sekaligus Ketua PWI Pamekasan 2015-2018

Umat Islam sebentar lagi akan merayakan Lebaran, setelah sebulan berpuasa Ramadhan. Mudik, atau pulang ke kampung halaman, mengunjungi sanak famili dan kerabat menjadi tradisi tahunan, bahkan mungkin keharusan.

Ada silaturrahim, ada rindu ingin bertemu saudara, kakak, adik, dan teman sekampung. “Mulih ke udik (desa)” demikian seorang teman jurnalis di Surabaya mengartikan tradisi tahunan jelang Hari Raya Idul Fitri itu.
Sebagian masyarakat Madura, ada yang menyebut pulang dari perantauan dari Pulau Jawa ke kampung halamannya di Madura dengan istilah “toron” (turun). Sebaliknya, kembali ke tempat perantauan mereka sering diistilahkan dengan “ongghe”.

Ada yang berpendapat, istilah “toron” dan “ongghe” merendahkan martabat orang Madura, karena Madura dianggap lebih rendah, dan Jawa lebih tinggi dalam strata sosial. Namun, sebenarnya, secara sosiologis, istilah ini tercipta, saat masyarakat di Pulau Madura masih terpisah dengan Pulau Jawa. Buktinya, istilah serupa juga digunakan oleh warga perantuan dari kepulauan di Kabupaten Sumenep.

Sejak Pulau Jawa dan Madura tersambung dengan adanya jembatan Suramadu, sebutan “toron” dan “ongghe” lambat-laun mulai pudar. Madura tidak lagi menjadi pulau terpisah, dan akses transportasi menuju pulau berpenduduk 4 juta lebih ini, sangat mudah, karena hanya membutuhkan jarak tempuh sekitar 10 menit dari Bangkalan, Madura, menuju Surabaya.

Pembangunan jembatan Suramadu yang peresmiannya digelar pada 10 Juni 2009 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kala itu, hingga kini, memang telah banyak membawa perubahan, terutama akses jalur transportasi. Sejak jembatan sepanjang 5,4 kilomter itu dioperasikan, akses jalur lalu lintas penghubung empat kabupaten diperbaikan dan dilakukan pelebaran.

Mulai dari Gerbang Tol Jembatan Suramadu sisi Madura di Kabupaten Bangkalan, hingga di kabupaten paling timur di Pulau Garam ini, yakni kabupaten Sumenep, semua akses jalur utama telah di-“hotmix”.
Dengan demikian, jalur mudik di Pulau Madura ini sebenarnya tidak terlalu bermasalah meskipun masih ada sebagian yang rusak dan bergelombang seperti di jalur mudik dari terminal Ceguk, Pamekasan menuju Jalan Raya Pademawu.

Namun, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Pamekasan Totok Hartono menyatakan, kerusakan jalur mudik itu tidak terlalu parah, karena hanya di jalur bus saja, sehingga pemudik bisa melalui jalur alternatif, yakni melalui jalur Kota, Pamekasan.

Yang justru akan menjadi masalah pada musim mudik Lebaran kali ini, adalah keberadaan pasar tumpah di sepanjang jalur mudik dari Bangkalan, hingga Sumenep.

Di sepanjang jalan mudik dari dari Bangkalan hingga Pamekasan saja, tidak kurang dari tujuh titik rawan macet, akibat pasar tumpah.

Antara lain di Pasar Tanah Merah, Galis, Blega, Pasar Mahdalena, Kota Sampang, Camplong, Tanjung dan pasar tumpah Ambat, Kecamatan Tlanakan.
Data di Mapolres Bangkalan menyebutkan, khusus di Bangkalan saja, sebenarnya terdapat 10 titik rawan macet, tiga di antaranya berada di jalur utama yang merupakan penghubung antara Kabupaten Bangkalan dengan Kabupaten Sampang.

Namun, Polres telah mempersiapkan tim khusus, gabungan antara polisi, dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Pemkab Bangkalan. Selain itu, polisi juga mempersiapkan tim pengurai, jika sewaktu-waktu terjadi kemacetan parah, disamping membuat pos pantai di titik-titik rawan macet tersebut.

Guna menekan terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya, petugas juga memasang pesan siaran peringatan tertib lalu lintas di berbagai perempatan jalan yang isinya mengingatkan kepada pengendara agar tertib. Hal itu dilakukan, karena salah satu penyebab terjadi kecelakaan, karena pengendara cenderung mengabaikan tertib berlalu lintas di jalan raya.

Beragam fasilitas juga disediakan petugas, seperti tempat beristirahat, termasuk takjil untuk berbuka puasa, mulai “H-7″ Lebaran hingga “H+7″ atau saat balik Lebaran. Jadi, toron atau ongghe ke Madura itu sudah tidak sesulit dulu, karena tinggal menyeberang saja.

(Tulisan ini dimuat di situs antarajatim.com Minggu, 28 Juni 2015 11:26 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: