Zawawi Imron Nasihati PWI Terkait Pemberitaan

Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz dan Penyair Madura D Zawawi Imron seusai acara bedah buku di Pamekasan.
Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz dan Penyair Madura D Zawawi Imron seusai acara bedah buku di Pamekasan.

PENAWARTA.COM – Penyair yang sekaligus Budayawan Madura D Zawawi Imron menasihati wartawan yang tergabung dalam organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan terkait pemberitaan.

“Jadilah wartawan yang baik, yakni menyampaikan berita sesuai fakta, bukan malah memperburuk keadaan,” katanya seusai menjadi pemateri dalam acara bedah buku berjudul “Pesantren, Nalar dan Tradisi” karangan anggota DPRD Provinsi Jatim Baddrut Taman di aula Balai Rejo, Pamekasan, Kamis (3/12/2015).

Berita yang harus disampaikan wartawan kepada publik adalah berita yang memang menyangkut kepentingan publik, solutif dan tidak profokatif atau menciptakan suasana menjadi lebih buruk.

Penyair berjukuk “Si Celurit Emas” ini juga menyarankan bahasa yang baik harus dikedapankan, sehingga pembaca merasa enak dan nyaman dengan berita yang disajikan.

Ia juga meminta agar tidak menjadi media sebagai alat untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. “Menulislah dengan hati dan niatkan untuk kepentingan umat yang lebih baik,” kata penerima penghargaan “The SEA Write Award” dari Kerajaan Thailand di Bangkok pada 2012 itu.

Kepada pengurus PWI Pamekasan yang meliput acara bedah buku “Pesantren, Nalar dan Tradisi” itu, Zawawi juga menceritakan prihal puisi hasil karyanya yang sempat meraih penghargaan tingkat Asia.

Menurut Zawawi, puisi itu ditulis ala kadarnya saat ia masih remaja. “Tapi tulisan yang biasa-biasa itu saat itu, akhirnya mampu mengantarkan saya meraih juara dan itu diluar dugaan,” kata pria yang mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak terlibat dalam acara Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1982.

Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz menyatakan, wartawan pemang harus berpegang pada kode etik jurnalis dan ketentuan perundang-undang yang berlaku, dan tidak menjadikan berita atau tulian sebagai alat untuk memojokkan pihak-pihak tertentuan, apalagi dijadikan alat memaras.

“Makanya upaya untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas keilmuan di PWI senantiasa terus dilakukan, dan salah satunya mengharuskan semua anggota PWI untuk ikut uji kompetensi sebagai prasyarat formal dalam mengetahui kompeten tidaknya profesi jurnalis yang ditekuninya,” terang Abd Aziz.(Penawarta.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: